Minggu, 27 Juni 2010

Sejarah Empero


SEJARAH EMPERO
           

            Dahulu pada zaman pendudukan pemerintah Belanda, Empero yang sekarang itu namanya HIS singkatan dari Holland Indische School sebuah sekolah setingkat SMP yang adanya hanya di Ibukota Kabupaten, muridnya terdiri dari anak-anak orang Belanda dan anak orang-orang pribumi (maaf dulu belum ada sebutan Indonesia, yang ada adalah orang Hindia Belanda atau Indische ) Ruang kelasnya hanya 6 ruang, yang sekarang berlantai satu itu, membujur ke utara 4 lokal, yang paling utara dan paling selatan tambah 1 lokal ke timur masing –masing dindingnya masih terbuat dari bamboo ( orang jawa menyebutnya gedek ) 1 ruang lagi agak panjang, terletak di tepi jalan raya membujur ke utara nama Spilood atau ruang untuk latihan menari waktu itu. Kemudian ada 4 ruang WC yang ada di pojok timur laut. Untuk menuju WC terdapat lorong yang beratap disebut Dorkep. Guru – gurunya pun campuran antara orang – orang Belanda dan orang – orang pribumi.

            Pada zaman kemerdekaan, sejalan dengan kebutuhan pemerintah Indonesia untuk membangun bangsa dan mencerdaskan, HIS diubah menjadi SGB singkatan dari Sekolah Guru Bawah, untuk mencetak calon – calon guru sekolah rakyat (sekarang namanya SD). Beberapa guru – gurunya antara lain Ibu Siti Ulupi (alm), Ibu Sukarni (alm), Bapak Suwiryo (alm), dan lain-lain, tinggalannya sampai sekarang selain ruang kelas utama yang luar tadi, juga almari-almari yang berpintu 4 juga sebuah piano Italia yang beberapa waktu lalu dipertimbangkan karena selain rusak juga terlalu berat dan sudah kuno. Lulusan dari SGB ini langsung diangkat menjadi guru umum di sekolah rakyat (SR) Sedangkan guru Agamanya diambil dari lulusan PGA yang kepala sekolahnya Pak Rebin (alm).

            Setelah lulusan SR katakanlah meledak, pemerintah lalu mendirikan SMP dimana – mana SGB pun ikut beralih fungsi menjadi SMPN 2 Tulungagung pada tanggal 15 Januari 1962, dengan Bapak Moh. Roekan sebagai kepala sekolah yang pertama, beliau berasal dari Demak, Jawa Tengah, guru-gurunya antara lain : P. Sartono (alm), P. Sukirno (alm), P. Sutadji (alm),   Bu Sumiatun, Bu Sudari, P. Sudjiono dan lain-lain. Setelah Bapak Roekan ini pensiun, digantikan oleh Bapak RGS Sumadji, dimasa-masa di era kedua Kepala Sekolah ini, SMPN 2 Tulungagungn masih disebut-sebut sebagai sekolah “ndeso”. Apabila ada lomba – lomba akademik, tidak pernah juara, tetapi apabila Olah raga seperti bola Volly, Sepak Bola dan lain-lain yang bersifat non akademik, SMPN 2 Tulungagung jagonya.
Share this article

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2014 EMPERO • All Rights Reserved.
Distributed By Free Blogger Templates | Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger
back to top