Kamis, 01 Agustus 2013

Kesenian Tiban



Tiban, merupakan suatu permainan dua orang saling cambuk mencambuk. Cambuk yang dipergunakan tersebut dari lidi aren juga diancam (dipintal). Inti permainan ini adalah latihan keberanian, tetapi umumnya permainan ini dimainkan bersamaan dengan upcara "meminta hujan". Kita memang tidak dapat menunjukkan dari zaman apa tarian/permainan ini asal mulanya.
Tetapi melihat pelaksanaan permainan ini biasanya pada musim kering, dimana petani-petani sangat mengharapkan adanya hujan, maka nama permainan itulah yang mempunyai arti magis. Tiban berasal dari kata "tiba", yang artinya jatuh. Dalam hal ini dengan diadakannya permainan itu diharapkan agar "jatuh hujan" pada saat-saat kering itu. Kepercayaan semacam ini tentu tidak terlepas dari unsur dinamisme/animisme yang memang pernah hidup di tanah air kita. Pelaksanaan permainan Tiban didahului dengan sembahyang Istiqa.
Tiban merupakan salah satu budaya tradisional daerah Wajak yang merupakan suatu permainan adu kekuatan daya tahan tubuh dengan menggunakan cambuk sebagai senjatanya. Istilah Tiban muncul pada zaman pemerintahan Tumenggung Surontani II. Hal ini dimaksudkan untuk mencari bibit-bibi tprajurit yang tangguh dan gagah perkasa. Sampai sekarang kesenian Tiban masih dilestarikan di daerah Wajak dan sekitarnya. Bahkan setiap digelar Tiban, masyarakat "Tumplek Blek" memadati lapangan. Berikutnya laporan wartawan Mataram Timur, Hariyanto.
Kesenian tradisional Tiban sudah mendarah daging masyarakat Wajak Lor Kecamatan Boyolangu Kobupaten Tulungagung. Suntu permainan adu kekuatan daya tahan tubuh dengan menggunakan Cambuk sebagai senjatanya. Berdasarkan sejarah budirinya daerah Wajak, istilah Tiban rnuilcul pada zaman pemerintahan Tumenggung Surontani II. Hal ini dimaksudkan untuk mencari bibit-bibit prajurit yang tnngguh dan gagah perkasa yang nantinya akan dipersiapkan untuk menghadapi Kerajaan Mataram.
Menurut tokoh masyarakat Wajak Lor Sayuti. Kisah itu berawal para era Tumenggung Surontani II. Dewi Roro Pilang anak kandung Tumenggung Surontani II dihamili oleh Gusti Panembahan Senopati Mataram, pada waktu penobatan Tumenggung Suwantri II. Mendengar peristiwa tersebut Tumenggung Surontani II menjadi murka, ia memerintahkan senopatinya untuk meminta pertanggungjawaban dari Gusti Penembahan Senopati di Mataram. Sambil menanti kabar dari senopatinya, Tumenggung Surontani II mengadakan pertunjukan adu kekuatan yang sekaligus sebagai hiburan rakyat. Pertunjukan tersebut dinamakan "Tiban". Sebenarnya semua itu merupakan taktik Tumenggung Surontani II untuk mencari bibit prajurit yang dipersiapkan untuk menghadapi serangan.
Senopati murka atas pengiriman Patih Tumenggung Surontani II untuk meminta pertanggungjawaban dan beliau mengirimkan pasukannya untuk menyerang KetemenggunganWajak.
Sayuti, mantan Purn.TNI Yonif 511 yang juga sebagai landang Tiban (wasit) menjelaskan dari kisah itulah masyarakat wajak, menjadikan Tiban sebagai tradisi di daerah Wajak. Bahkan sampai saat ini tradisi tersebut masih mendarah daging dalam tubuh masyarakat Wajak. Namun demikian pada perkembangannya, Tiban mempunyai tujuan yang berbeda dari tujuan pada waktu pertama kali diadakan Tiban.
Sayuti yang juga mantan karateka atau pendekar Wajak menceritakan pada jaman pada penjaiahan Belanda, Tiban masih terus dilaksanakan lebih-lebih ketika mendapat dukungan dari pemerintah Belanda.
Ada beberapa sebab Tiban yang dilaksanakan di daerah Wajak selalu mendapat dukungan pemerintah Belanda.
Pertama, Tiban dalam pelaksanaanya penuh dengan peristiwa persabungan yang dijadikan alat adu domba oleh pemerintah Belanda.
Kedua, sejak kedatangannya di Desa Wajak, dengan diadakannya pertunjukan Tiban, dalam benak, pemerintanan Belanda, tersimpan suatu rasa kagum terhadap kekuatan orang-orong di Pulau Jawa. Mereka berkeyakinan bahwa orang-orong Jawa itu hebat.
Sampai sekarang Tiban masih tetap membudaya dalam masyarakat daerah Wajak. Namun telah mengalami perubahan dalam hal tujuan diadakannya pertunjukan tersebut. Tujuan Tiban semula yakin untuk mencari prajurit-prajurit yang tangguh, sudah dianggap tidak lagi berfungsi atau berguna bagi masyarakat Wajak yang ada di negara Indonesia yang sudah merdeka. Sehingga masyarakat sebagai pendukung dari kebudayaan akan mengadakan refisi/perubahan terhadap tujuan dari kesenian Tiban tersebut.
Dari proses itulah saat ini Tiban telah mempunyai tujuan baru yang telah disetujui oleh masyarakat Wajak. Yaitu Tiban dijadikan alat untuk meminta hujan. Pada waktu meminta terjadi kemarau panjang.
Dengan demikian di Desa wajak sendiri telah terjadi perubahan kebudayaan yang mengasilkan kebudayaan yang dianggap berfungsi atau berguna sehingga dapat dijadikan pedoman hidup bermasyarakat.
Pelaksanaan Tiban dilaksanakan pada musim kemarau. Tak heran demi hujan berbagai upaya dilakukan, baik oleh kalangan intelektual atau kaum supranaturalis dan masyarakat awam. Kerinduan masyarakat dengan adanya hujan tersebut dibeli dengan darah, yang dilakukan melalui pertunjukan Tiban.
Lewat peristiwa sakral yang penuh persabungan kanuragan dan adu kesaktian itu, mereka berusaha mendatangkan hujan. Tradisi demikian berkembang sampai ke pelosok daerah Kabupaten Blitar, Trenggalek, Kediri, dan Ponorogo.
Sayuti menjelaskan setiap kegiatan memerlukan persiapan yang matang, tak terkecuali Tiban, yang metupakan kegiatan yang harus dibeli dengan darah. Terlebih dahulu, sebelum "H"nya diadakan persiapan yang benar-benar matang pada diri jagoan-jogoan Tiban yang menginginkan terjun di dalam kalangan dan bergantung dengan jagaan Tiban lainnya.
Masyarakat Wajak mempunyai cara tersendiri dalam mempersiapkan diri sebagai jagoan Tiban yang handal. Persiapan khusus yang dilakukan oleh Jagoan Tiban antara lain pada malam hari sebelum hari pelaksanaan Tiban mereka tidur di dekat makam para pendiri daerah Wajak, khususnya di dekat kuburan Tumenggung Surontani II selaku pelaksana Tiban awal mulanya daerah Wajak.
Dalam sejarah lain menyebutkan bahwa sebelum dilaksanakannya Tiban, kegiatan ini dibuka dengan upacara "Ngedus Kucing". Dalam upacara ini kucing disiram dengan air kembang spiritual lebih dulu membaca mantra-mantra.
Sementara cerita rakyat Tulungagung tentang asal usul ngedus kucing ini antara lain merebutkan. Konon bermula dari musim kemarau yang amat panjang yang menimpa daerah itu. Dalam situasi yang memprihatinkan itu seorong janda yang tidak diketahui sebelumnya tiba-tiba melihat seekor kucing yang amat kotor bulunya berniat ingin membersihkan bulu kucing itu. Secara kebetulan Mbok Rondo (sebut saja demikian) melihat sebuah mata air yang tidak mancur. Bak gayung bersambut, kucing tersebut langsung saja dimandikan. Tidak berselang lama keanehan terjadi. Secara tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Dengan pesta masyarakat menyambut kehadiran hujan yang telah mengakhiri kemarau panjang itu dengan Tiban. Lama-lama acara Ngedus Kucing itu menjadi kegiatan awal dalam Tiban, mereka mengharap keadaan turunnya hujan itu, terjadi pula dalam akhir Tiban.
Pelaksanaan Tiban dapat diikuti oleh siapa saja dan membutuhkan keberanian yang tinggi pada umumnya pelaksanaan Tiban lebih mendominasi oleh para keturunan pelaksanaan Tiban yang dahulu, tetapi tidak jarang pelaksanaan, jagoan Tiban muncul dari kalangan mayarakat umum dan tentunya mereka mempunyai keberanian dan kesaktian yang dapat diandalkan.
Dalam pelaksanaan Tiban penuh dengan peristiwa bersabungan itu berlangsung satu lawan satu. Masing-masing jagoan bersenjatakan ujung cambuk khas Tiban yang terbuat dari lidi daun aren. Sedang peristiwa pencambukan berlangsung secara bergiliran artinya bila seorang pemain mendapat giliran, mencambuk lawannya hanya boleh menadah (mengelak atau menangkis dengan ujungnya).
Sayuti yang selalu sebagai landang Tiban menambahkan dalam aturan main, masing-masing jagoan Tiban diharuskan bertelanjang dada dan yang boleh dicambuk hanya bagian badan saja. Bila terjadi pelanggaran dalam pertarungan, maka landang yang memberi keputusan.
Bagi seorang jagoan Tiban yang militan, meskipun tubuhnya telah penuh dengan luka akibat sabetan cambuk lawan, pantang mundur dari acuan sebelum benar-benar tidak berdaya. Para pemain Tiban yang demikian seringkali disanjung-sanjung sebagai jagoan Tiban yang mengakibatkan para pemain Tiban tersebut akan lebih bangga dan muncul rasa tidak kenal takut pada dirinya.
Pada tanggal 17 Desember 2006 di lapangan Desa Wajak Lor Boyolangu masyarakat tumplek blek melihat dari dekat pelaksanaan Tiban. Para jagoan Tiban datang dari berbagai daerah. Di antaranya Tulungagung, Blitar, Kediri, Trenggaiek, dan Ponorogo.
Share this article

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 EMPERO • All Rights Reserved.
Distributed By Free Blogger Templates | Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger
back to top